This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Senin, 17 Maret 2014
Definisi Pajak Menurut Para Ahli
Leroy Beaulieu
Pajak
adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan oleh
kekuasaan publik dari penduduk atau dari barang, untuk menutup belanja
pemerintah.
P. J. A. Adriani
Pajak
adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang
oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang-undang)
dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang
gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas
negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH
Pajak
adalah iuran rakyat kepada Kas Negara berdasarkan undang-undang (yang
dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prestasi) yang
langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.
Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak
adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada Kas Negara untuk membiayai
pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang
merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
Ray M. Sommerfeld, Herschel M.
Anderson, dan Horace R. Brock
Pajak
adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah,
bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan ketentuan
yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan yang langsung dan
proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.
R. Santoso Brotodihadrjo
Pajak
adalah bantuan, baik secara langsung maupun tidak yang dipaksakan oleh
kekuasaan public dari penduduk atau drai barang, untuk menutupi belanja
pemerintah, yang artinya pajak merupakan suatu pemungutan dari masyarakat yang
berguna untuk kepentingan Negara.
Deutsche Reichs Abgaben Ordnung
Pajak
adalah bantuan uang secara incidental atau secara periodic (dengan tidak ada
kontraprestasinya), yang di pungut oleh badab yang ebrsifat umum(Negara), untuk
memperoleh pendapatan, di mana terjadi suatu tatbestand (sasaran pemajakan),
yang karena undang-undang menimbulkan utang pajak. Artinya pajak merupakan
iuran yang dipaksakan oleh pemerintah terhadapt masyarakat dan tanda timbale
balik, karena berfungsi sebagai penambah penghasilan Negara demi meningkatkan
pembangunan suatu Negara.
M.J.H. Smeets
Pajak
adalah prestasi kepada pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan
yang dapat di paksakan, tanpa adakalanya kontraprestasi yang dapat ditujukan
dalam hal yang individual. Atrinya pajak diberlakukan untuk membiayai
pengeluaran pemerintah dalam suatu Negara atau berfungsi sebagai Budgeter.
Suparman Sumawidjaya
Pajak
adalah iuran wajib berupa barang yang dipungut oleh penguasa berdasarkan norma
hukum, guna menutup biaya produksi barang dan jasa kolektif dalam mencapai
kesejahteraan umum.
Ciri-Ciri
Yang Melekat Pada Pengertian Pajak Adalah Sebagai Berikut:
1.
Pajak dipungut berdasarkan undang-undang.
2.
Jasa timbal tidak dapat ditunjukkan
secara langsung.
3.
Pajak dipungut oleh pemerintah, baik
pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
4.
Pajak dipergunakan untuk membiayai
pengeluaran umum pemerintahan.
5.
Dapat dipaksakan (bersifat yuridis).
Jumat, 07 Maret 2014
Akibat Kurang Tidur
* Banyak makan di pagi hari.
Penelitian menunjukkan partisipan yang kurang tidur
mengaku lapar di pagi hari dan sarapan dengan porsi lebih banyak, dan hari
berikutnya jadi sering ngemil. Peneliti mengatakan kurang tidur dalam semalam
saja menyebabkan seseorang lebih banyak makan karena terpicunya ghrelin, hormon
yang merangsang selera makan.
* Tak henti makan junk-food.
Jika kurang tidur, otak akan memicu tindakan
impulsif dan membuat Anda memilih makanan berkalori tinggi.Sehingga Anda akan
cenderung lebih sering makan junk food seperti pizza dan donat.
Makanan sehat seperti buah dan sayur tak menggugah selera. Menurut penelitian
di University of California, Berkeley, bagian otak yang digunakan untuk membuat
keputusan kompleks terganggu dan bagian otak yang mengontrol keinginan menjadi
lebih kuat.
* Ngemil sore tak terkontrol.
Menurut penelitian University of Chicago dan Medical
College of Wisconsin di Milwaukee, kurang tidur memicu tubuh mengeluarkan
molekul disebut 2-AG, yang menyulut rasa lapar. Partisipan penelitian yang
tidur hanya 4,5 jam memiliki kadar molekul lebih tinggi. Kadar ini semakin
tinggi jelang sore, sehingga keinginan ngemil kian tinggi.
Kamis, 27 Februari 2014
Efek Samping Rekayasa Teknologi dalam Mengatasi Perubahan Iklim
Rencana untuk mengurangi dampak kekacauan akibat perubahan iklim dengan memanipulasi iklim Bumi cenderung tidak efektif. Malah, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, upaya-upaya ini justru memperburuk terjadinya dampak perubahan iklim.
Karbondioksida yang meningkat di atmosfer secara dramatis sejak Revolusi Industri bisa berdampak pada naiknya permukaan air laut, cuaca sangat ekstrem, dan kekacauan lainnya dalam iklim setempat dan regional.
Karbondioksida adalah gas rumah kaca yang memerangkap panas, sehingga saat jumlah gas meningkat, kondisi Bumi secara keseluruhan akan semakin panas.
Selain mengurangi emisi karbondioksida, ada yang menyarankan untuk memanipulasi iklim Bumi sebagai upaya terakhir mencegah bencana dari dampak perubahan iklim. Strategi yang dianggap radikal itu dikenal sebagai geoengineering atau rekayasa iklim.
Banyak ilmuwan menyelidiki dan mempertanyakan kemanjuran masing-masing metode geoengineering. Ada beberapa upaya untuk membandingkan dan membedakan dengan beragam metode, mulai dari pemupukan laut sehingga biota maritim menyerap karbondioksida yang berlebihan hingga melepaskan aerosol ke atmosfer untuk memantulkan sebagian sinar matahari yang masuk ke antariksa.
Saat ini, para peneliti menggunakan sebuah model Bumi dari komputer 3D yang menguji potensi keunggulan dan kelemahan dari lima teknologi geoengineering yang berbeda.
Akankah berhasil?
Peneliti menemukan bahkan ketika beberapa teknologi digabungkan, geoengineering tidak akan mampu mencegah kenaikan rata-rata suhu Bumi lebih dari dua derajat Celcius pada 2100 nanti dibandingkan dengan suhu saat ini.
Batas kenaikan suhu itu menjadi fokus berbagai organisasi internasional. Berbagai teknologi tersebut tidak mampu mencegah kenaikan suhu, bahkan ketika masing-masing teknologi digunakan secara berkelanjutan dan dalam skala terbesar yang dianggap mungkin.
“Potensi kebanyakan metode rekayasa iklim, bahkan saat sudah memasukkan hasil paling optimis, jauh lebih rendah dari yang saya perkirakan,” kata pengarang studi Andreas Oschies, seorang pembuat model sistem bumi di GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research yang berada di Kiel, Jerman.
Salah satu strategi, yang dikenal sebagai reboisasi, adalah rencana mengairi gurun di Australia dan Afrika Utara, untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman agar bisa menyerap karbondioksida. Namun, tanaman ini juga akan menyerap sinar matahari gurun yang saat ini dipantulkan kembali ke antariksa, sehingga benar-benar berkontribusi pada pemanasan global. Temuan itu mendukung hasil penelitian sebelumnya.
Taktik lainnya yang dikenal sebagai "ocean upwelling", taktik yang menggunakan pipa panjang untuk memompa air dalam yang dingin dan kaya nutrisi ke permukaan untuk mendinginkan permukaan laut dan mendorong pertumbuhan biota fotosintesis yang bisa menyerap karbondioksida. Namun, para ilmuwan memperhatikan bahwa jika strategi ini dihentikan, kondisi laut akan menyeimbangkan kembali tingkat panasnya, yang berpotensi menyebabkan bencana perubahan iklim secara cepat.
Pendekatan lainnya dikenal sebagai "ocean alkalinization" yang akan membuang cairan ke dalam laut agar secara kimiawi meningkatkan penyerapan karbondioksida oleh laut.
Teknik lainnya, yang dikenal sebagai pemupukan zat besi, akan membuang zat besi ke laut guna meningkatkan pertumbuhan biota fotosintesis yang bisa menyerap karbondioksida. Namun, seperti strategi geoengineering lainnya, model-model tersebut kurang efektif dalam mengurangi suhu global.
Metode terakhir, yang dikenal sebagai manajemen radiasi surya, akan mengurangi jumlah cahaya matahari yang masuk ke bumi, kemungkinan besar dengan menyebarkan aerosol berbasis sulfat reflektif ke dalam atmosfer.
Pengaturan cahaya sinar matahari di Bumi akan mendinginkan planet, namun para peneliti menekankan bahwa karbondioksida akan terus terakumulasi di atmosfer. Hal tersebut menyatakan bahwa jika strategi itu sempat dihentikan, Bumi akan memanas secara pesat setelah aerosol tersebar.
Kemungkinan efek sampingnya
Secara keseluruhan, strategi itu masing-masing relatif kurang efektif. setiap strategi mengurangi pemanasan global kurang dari delapan persen, dengan asumsi tingkat emisi karbondioksida masih terus tinggi seperti kondisi saat ini.
Para peneliti menemukan bahwa dalam seluruh simulasi, pada akhir abad 21 nanti, tingkat karbondioksida atmosfer masih akan mencapai lebih dari dua kali lipat dari level saat ini.
Selain itu, masing-masing teknik geoengineering bisa berpotensi menimbulkan efek samping yang parah. Contohnya, manajemen radiasi surya akan mengubah pola presipitasi seperti curah hujan dan mengurangi total presipitasi di seluruh dunia.
Secara keseluruhan, teknologi rekayasa iklim yang dianalisis dalam studi ini kurang efektif dalam menurunkan tingkat karbondioksida dan temperatur. Dan kelemahan dari dampak yang ditimbulkan tersebut “sangat mencolok”, kata ilmuwan iklim Kelly McCusker di University of Victoria di Kanada, yang terlibat dalam penelitian itu.
McCusker dan koleganya juga baru-baru ini menemukan bahwa penghentian mendadak dalam strategi manajemen radiasi surya justru akan memperburuk pemanasan global.
“Studi ini menegaskan pentingnya untuk terus menerus mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata McCusker kepada Live Science.
Para peneliti mencatat mereka menggunakan model sistem umi yang cukup kompleks, dan model yang lebih kompleks tersebut melibatkan tampilan lebih rumit mengenai kemungkinan respons angin terhadap geoengineering. “Kemungkinan ini menghasilkan jawaban yang berbeda-beda, khususnya perubahan presipitasi,” ujar Oschlies.
Oschlies dan koleganya David Keller serta Ellias Feng merinci penemuan mereka secara online pada 25 Februari dalam jurnal Nature Communications.
Karbondioksida yang meningkat di atmosfer secara dramatis sejak Revolusi Industri bisa berdampak pada naiknya permukaan air laut, cuaca sangat ekstrem, dan kekacauan lainnya dalam iklim setempat dan regional.
Karbondioksida adalah gas rumah kaca yang memerangkap panas, sehingga saat jumlah gas meningkat, kondisi Bumi secara keseluruhan akan semakin panas.
Selain mengurangi emisi karbondioksida, ada yang menyarankan untuk memanipulasi iklim Bumi sebagai upaya terakhir mencegah bencana dari dampak perubahan iklim. Strategi yang dianggap radikal itu dikenal sebagai geoengineering atau rekayasa iklim.
Banyak ilmuwan menyelidiki dan mempertanyakan kemanjuran masing-masing metode geoengineering. Ada beberapa upaya untuk membandingkan dan membedakan dengan beragam metode, mulai dari pemupukan laut sehingga biota maritim menyerap karbondioksida yang berlebihan hingga melepaskan aerosol ke atmosfer untuk memantulkan sebagian sinar matahari yang masuk ke antariksa.
Saat ini, para peneliti menggunakan sebuah model Bumi dari komputer 3D yang menguji potensi keunggulan dan kelemahan dari lima teknologi geoengineering yang berbeda.
Akankah berhasil?
Peneliti menemukan bahkan ketika beberapa teknologi digabungkan, geoengineering tidak akan mampu mencegah kenaikan rata-rata suhu Bumi lebih dari dua derajat Celcius pada 2100 nanti dibandingkan dengan suhu saat ini.
Batas kenaikan suhu itu menjadi fokus berbagai organisasi internasional. Berbagai teknologi tersebut tidak mampu mencegah kenaikan suhu, bahkan ketika masing-masing teknologi digunakan secara berkelanjutan dan dalam skala terbesar yang dianggap mungkin.
“Potensi kebanyakan metode rekayasa iklim, bahkan saat sudah memasukkan hasil paling optimis, jauh lebih rendah dari yang saya perkirakan,” kata pengarang studi Andreas Oschies, seorang pembuat model sistem bumi di GEOMAR Helmholtz Centre for Ocean Research yang berada di Kiel, Jerman.
Salah satu strategi, yang dikenal sebagai reboisasi, adalah rencana mengairi gurun di Australia dan Afrika Utara, untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman agar bisa menyerap karbondioksida. Namun, tanaman ini juga akan menyerap sinar matahari gurun yang saat ini dipantulkan kembali ke antariksa, sehingga benar-benar berkontribusi pada pemanasan global. Temuan itu mendukung hasil penelitian sebelumnya.
Taktik lainnya yang dikenal sebagai "ocean upwelling", taktik yang menggunakan pipa panjang untuk memompa air dalam yang dingin dan kaya nutrisi ke permukaan untuk mendinginkan permukaan laut dan mendorong pertumbuhan biota fotosintesis yang bisa menyerap karbondioksida. Namun, para ilmuwan memperhatikan bahwa jika strategi ini dihentikan, kondisi laut akan menyeimbangkan kembali tingkat panasnya, yang berpotensi menyebabkan bencana perubahan iklim secara cepat.
Pendekatan lainnya dikenal sebagai "ocean alkalinization" yang akan membuang cairan ke dalam laut agar secara kimiawi meningkatkan penyerapan karbondioksida oleh laut.
Teknik lainnya, yang dikenal sebagai pemupukan zat besi, akan membuang zat besi ke laut guna meningkatkan pertumbuhan biota fotosintesis yang bisa menyerap karbondioksida. Namun, seperti strategi geoengineering lainnya, model-model tersebut kurang efektif dalam mengurangi suhu global.
Metode terakhir, yang dikenal sebagai manajemen radiasi surya, akan mengurangi jumlah cahaya matahari yang masuk ke bumi, kemungkinan besar dengan menyebarkan aerosol berbasis sulfat reflektif ke dalam atmosfer.
Pengaturan cahaya sinar matahari di Bumi akan mendinginkan planet, namun para peneliti menekankan bahwa karbondioksida akan terus terakumulasi di atmosfer. Hal tersebut menyatakan bahwa jika strategi itu sempat dihentikan, Bumi akan memanas secara pesat setelah aerosol tersebar.
Kemungkinan efek sampingnya
Secara keseluruhan, strategi itu masing-masing relatif kurang efektif. setiap strategi mengurangi pemanasan global kurang dari delapan persen, dengan asumsi tingkat emisi karbondioksida masih terus tinggi seperti kondisi saat ini.
Para peneliti menemukan bahwa dalam seluruh simulasi, pada akhir abad 21 nanti, tingkat karbondioksida atmosfer masih akan mencapai lebih dari dua kali lipat dari level saat ini.
Selain itu, masing-masing teknik geoengineering bisa berpotensi menimbulkan efek samping yang parah. Contohnya, manajemen radiasi surya akan mengubah pola presipitasi seperti curah hujan dan mengurangi total presipitasi di seluruh dunia.
Secara keseluruhan, teknologi rekayasa iklim yang dianalisis dalam studi ini kurang efektif dalam menurunkan tingkat karbondioksida dan temperatur. Dan kelemahan dari dampak yang ditimbulkan tersebut “sangat mencolok”, kata ilmuwan iklim Kelly McCusker di University of Victoria di Kanada, yang terlibat dalam penelitian itu.
McCusker dan koleganya juga baru-baru ini menemukan bahwa penghentian mendadak dalam strategi manajemen radiasi surya justru akan memperburuk pemanasan global.
“Studi ini menegaskan pentingnya untuk terus menerus mengurangi emisi gas rumah kaca,” kata McCusker kepada Live Science.
Para peneliti mencatat mereka menggunakan model sistem umi yang cukup kompleks, dan model yang lebih kompleks tersebut melibatkan tampilan lebih rumit mengenai kemungkinan respons angin terhadap geoengineering. “Kemungkinan ini menghasilkan jawaban yang berbeda-beda, khususnya perubahan presipitasi,” ujar Oschlies.
Oschlies dan koleganya David Keller serta Ellias Feng merinci penemuan mereka secara online pada 25 Februari dalam jurnal Nature Communications.


10.39
jhun number one