Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table), diagram HIPO dan bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut.
This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Selasa, 25 Februari 2014
Pendekatan Bangsis SIM
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Persaingan
bisnis yang semakin ketat pada era globalisasi saat ini harus didukung dengan
penerapan sistem informasi yang baik. Sistem informasi yang baik adalah suatu
sistem terpadu atau kombinasi teratur apapun dari orang-orang, hardware, software,
dan jaringaan komunikasi, untuk meyediakan informasi yang berguna dalam
mendukung kegiatan operasional dan fungsi pengambilan keputusan dari sebuah
organisasi. Sistem informasi dapat membantu segala jenis bisnis dalam
meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses bisnis yang dijalankan,
pengambilan keputusan manjerial, kerjasama kelompok kerja hingga dapat
memperkuat posisi kompetitif perusahaan dalam pasar yang dinamis. Sehingga
sistem informasi menjadi salah satu bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan
bisnis dilingkungan global yang dinamis saat ini.
Strategi
perusahaan merupakan bagian penting untuk mencapai tujuan perusahaan dan
menjadi pedoman dalam penyusunan strategi bagi unit-unit bisnis di bawahnya.
Pengembangan sistem informasi (SI) perusahaan yang didukung oleh penggunaan
teknologi informasi (TI) bisa menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan
daya saing perusahaan. Apabila sebelumnya peranan SI hanya berfungsi sebagai
penunjang dalam hal efisiensi biaya operasional, meningkatkan ketepatan dan
produktivitas operasi dari berbagai fungsi perusahaan, maka sekarang dapat
ditingkatkan perannya sebagai salah satu alat strategis untuk meningkatkan daya
saing. Namun pengembangan strategi SI harus disesuaikan dengan strategi perusahaan
agar peran dan fungsi SI tersebut dapat meningkat dan pada akhirnya
meningkatkan nilai perusahaan itu sendiri.
Strategi
perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena sumber daya yang
dimiliki perusahaan sangat terbatas, sehingga harus dimanfaatkan secara
optimal. Strategi ini juga digunakan untuk meningkatkan daya saing atau kinerja
perusahaan karena para kompetitor memiliki sumberdaya teknologi yang sama dan
memastikan bahwa aset teknologi informasi dapat dimanfaatkan secara langsung
maupun tidak langsung dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa
peningkatan pendapatan mapun pengurangan biaya. Selain itu, strategi perusahaan
berbasis sistem informasi digunakan untuk mencegah terjadinya kelebihan atau
kekurangan investasi serta menjamin bahwa teknologi informasi yang direncanakan
benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.
1.2. Rumusan
Masalah
Untuk
mengkaji dan mengulas tentang pengembangan sistem informasi, maka diperlukan
sub-pokok bahasan yang saling berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan
masalah sebagai berikut :
1.
Pendekatan apa saja yang digunakan
untuk mengembangkan sistem informasi?
2. Pendekatan
mana yang lebih efektif untuk mengembangkan informasi?
3. Apa manfaat
dari mempelajari pendekatan pengembangan sistem informasi?
1.3.Metode
Penulisan Masalah
Penulis
memakai metode studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini.
Referensi makalah ini bersumber tidak hanya dari buku, tetapi juga dari media
media lain seperti web, blog, dan perangkat media massa yang diambil dari
internet.
1.4.Sistematika Penulisan Makalah
Makalah ini disusun menjadi tiga
bab, yaitu bab pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup. Adapun bab
pendahuluan terbagi atas : latar belakang, rumusan makalah, tujuan dan manfaat
penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab
pembahasan dibagi berdasarkan sub-bab yang berkaitan dengan pengembangan sistem
informasi. Terakhir, bab penutup terdiri atas kesimpulan.
1.5.Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pendekatan apa saja yang digunakan untuk
mengembangkan sistem informasi.
2. Untuk mengetahui pendekatan
mana yang lebih efektif untuk mengembangkan informasi.
3. Untuk mengetahui manfaat dari
mempelajari pendekatan pengembangan sistem informasi.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1.
Pendekatan Klasisk.
Pendekatan klasik (classical
approach) yang disebut juga
pendekatan tradisional atau (classical
approach) pendekatan konvensional
adalah pendekatan mengembangkan sistem
yang mengikuti tahapan di system life cycle tanpa di bekali alat dan teknik
yang memadai.
Metodologi
pendekatan klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan di
systems life cycle.Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan sistem akan
berhasil bila mengikuti tahapan di systems life cycle.Akan tetapi sayangnya,
didalam praktek, hal ini tidaklah cukup, karena pendekatan ini tidak memberikan
pedoman lebih lanjut tentang bagaimana melakukan tahapan-tahapan tersebut
dengan terinci karena pendekatan ini tidak dibekali dengan alat-alat dan teknik-teknik
yang memadai.Karena sifat dari sistem informasi sekarang menjadi lebih
kompleks, pendekatan klasik tidak cukup digunakan untuk mengembangkan suatu
sistem informasi yang sukses dan akan menimbulkan beberapa permasalahan.
permasalahan
yang dapat timbul di pendekatan klasik antara lain adalah sebagai berikut :
1.Pengembangan Perangkat Lunak Akan
Menjadi Sulit.
Pendekatan
klasik kurang memberikan alat-alat dan teknik-teknik di dalam mengembangkan
sistem dan sebagai akibatnya proses pengembangan perangkat lunak menjadi tidak
terarah dan sulit untuk dikerjakan oleh pemrogram.
Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table), diagram HIPO dan bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut.
Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table), diagram HIPO dan bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut.
2.Biaya perawatan atau pemeliharaan
sistem akan menjadi lebih mahal.
Biaya
pengembangan sistem yang termahal adalah terletak di tahap perawatannya.
Mahalnya biaya perawatan di pendekatan klasik ini disebabkan karena dokumentasi
sistem yang dikembangkan kurang lengkap dan kurang terstruktur.Karena
pendekatan klasik kurang didukung dengan alat-alat dan teknik-teknik, maka
dokumentasi menjadi tidak lengkap dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang
jelas, sehingga pada waktu pemeliharaan sistem menjadi kesulitan.
3.Kemungkinan
Kesalahan Sistem Besar
Pendekatan
klasik tidak menyediakan kepada analis sistem cara untuk melakukan pengetesan
sistem, sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan sistem akan menjadi lebih
besar. Berbeda dengan pendekatan terstruktur yang pengembangan sistemnya
dilakukan dalam bentuk modul-modul yang terstruktur. Modul-modul ini akan lebih
mudah dites secara terpisah dan kemudian pengetesan dapat dilakukan pada
integrasi semua modul untuk meyakinkan bahwa interaksi antar modul telah
berfungsi semestinya dan sesuai dengan yang diharapkan.
4.Keberhasilan
sistem kurang terjamin.
Pendekatan
klasik kurang melibatkan pemakai sistem dalam pengembangan sistem, maka
kebutuhan-kebutuhan pemakai sistem menjadi kurang sesuai dengan yang diinginkan
dan sebagai akibatnya sistem yang diterapkan menjadi kurang berhasil.
5. Masalah dalam penerapan sistem
Karena
kurangnya keterlibatan pemakai sistem dalam tahapan pengembangan sistem, maka
pemakai sistem hanya akan mengenal system yang baru pada tahap diterapkan
saja.Sebagai akibatnya pemakai system akan menjadi kaget dan tidak terbiasa
dengan sistem baru yang tiba-tiba dikenalkan. Sebagai akibat lebih lanjut,
pemakai sistem akan menjadi frustasi karena tidak dapat mengoperasikan sistem
dengan baik.
2.2. Pendekatan
Terstruktur (Structured Approach)
Karena banyak terjadi permasalahan di pendekatan
klasik, maka kebutuhan akan pendekatan pengembangan system yang lebih baik
mulai terasa dibutuhkan.Oleh karena itu, perlu suatu pendekatan pengembangan
sistem yang baru yang dilengkapi beberapa alat dan teknik supaya berhasil.
Pendekatan yang dimulai dari awal tahun 1970 ini disebut pendekatan
terstruktur.
Pendekatan
terstruktur (structured approach) dilengkapi dengan
alat-alat dan teknik-teknik yang dibutuhkan
dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang
dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan
baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur
telah banyak yang diperkenalkan baik dalam buku-buku, maupun oleh perusahaan-perusahaan konsultan pengembang
sistem. Metodologi ini memperkenalkan penggunaan alat-alat dan
teknik-teknik untuk mengembangkan sistem yang terstruktur.
Pendekatan
terstruktur pendekatan yang dimulai dari awal tahun ini disebut
pendekatan terstruktur (structured approach). Pendekatan terstruktur dilengkapi
dengan alat dan teknik yang dibutuhkan dalan pengembangan sistem
sehingga hasil akhir dari sistem yang di kembangkan menghasilkan sistem yang
terstruktur didefenisikan dengan baik.
Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan
konsep yang baru.teknik perakitan dipabrik dan perancangan sirkuit untuk alat
elektronik adalah dua contoh konsep ini yang banyak di gunakan
didalam industri.melalui pendekatan struktur,permasalahan-permasalahan
yang kompleks didalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil sistem akan
mudah di pelihara,fleksibel,lebih memuaskan pemakainya,mempunyai dokumentasi
yang baik,tepat pada waktunya,sesuai dengan agaran biaya pengembangannya dapat
meningkatkan produktifitas,dan kulitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan).
Keuntungan dari
pendekatan terstruktur:
1.
Mengurangi kerumitan masalah (reduction of complexity).
2.
Konsep mengarah pada sistem yang ideal (focus on ideal).
3.
Standarisasi (standardization).
4.
Orientasi ke masa datang (future orientation).
5. Mengurangi ketergantungan pada disainer (less
reliance on artistry).
2.3. Pendekatan Bottom Up dan Top Down
Pendekatan bawah-naik (bottom-up approach) dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level
operasional di mana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan
kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan
kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut.
Pendekatan ini juga merupakan cirri pendekatan klasik.
Bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut data analysis, karena yang
menjadi tekanan adalah data yang akan diolah lebih dulu. Informasi yang akan
dihasilkan menyusul mengikuti datanya.
Pendekatan atas-turun (top-down approach) dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi.
Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan
organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah melakukan analisis kebutuhan
informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan maka selanjutnya proses turun
ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output, input, basis data, prosedur
operasi, dan kontrol.
Pendekatan ini juga ciri dari pendekatan terstruktur.
Bila digunakan pada tahap analysis system disebut juga dengan decision analysis
karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan oleh manajemen lebih dulu, kemudian data yang perlu diolah
didefinisikan menyusul mengikuti informasi yang dibutuhkan.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Dari sekian banyakp ilihan pendekatan
untuk mengenbangkan informasi,maka setia pendekatan seiring dengan berjalannnya waktu terus
mengalami perubahan
dan perbaikan serta peningkatan kearah yang lebih baik lagi.Dari setiap pendekatan memunyai kelemahan sehingga terus mengalami perubahan
pendekatan ketahap
perubahan yang lebih sempurna sesuai yang di inginkan perusahaan.
3.2.Saran
Untuk menunjang kinerja yang lebih
baik,hendaknya suatu perusahaan harus mampu dan bisa memilih pendekatan mana
yang hendaknya digunakan untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan
tersebut.Dengan memilih pendekatan yang tepat,maka akan menigkatkan kinerja
perusahaan kearah yang lebih baik.
Daftar pustaka
Husain,Muhammad Fakhri dan Amin Wibowo. 2002. Sistem
Informasi Manajemen.Yogyakarta: UUP AMP YKPN, cet. 1.
Gaol, Jimmy
L. 2008.Sistem Informasi Manajemen Pemahaman dan Aplikasi. Jakarta:
Grasindo.
Tata
Sutabri. 2004. Analisis
Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
Pajak Bumi dan Bangunan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Peran pajak dalam suatu
negara dapat dikatakan sebagai basis material dan darah kehidupan (lifeblood)
bagi negara dan roda kekuasaanya. Dalam catatan sejarah, tidak ada
negaraotoriter maupun demokratis yang dapat bertahan hidup dan menjalankan roda
kekuasaannya tanpa adanya pajak dari rakyat. Sehingga dapat diteorikan, apabila
basis material dan darahkehidupan ini “pajak” bisa berjalan dengan lancar baik
dari segi penganggaran maupunpembelanjaannya, akan tercipta suatu negara yang
sejahtera.Pajak dibayar, negara tegak; pajakdiboikot negara ambruk.
Walaupun sebenarnya
banyak sekali sektor pendapatan negara ini yang telah dikembangkan untuk
meningkatkan anggaran negara. Mulai dari pemanfatan sumber daya alamyang
melimpah sampai penyelenggaraan usaha-usaha perusahaan negara. Akan tetapi
sektorsektortersebut masih belum bisa membawa negara ke jenjang yang lebih baik
seperti yang diharapkan.Pajak ditinjau dari prespektif ekonomi dapat dipahami
sebagai paralihan sumber dayadari sektor privat (swasta) ke sektor publik
(pemerintah). Pemahaman seperti ini paling tidak memberikani gambaran bahwa
dengan adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah.Pertama, berkurangnya
kemampuan individu atau perusahaan dalam menguasai sumber daya untuk penguasaan
barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan negara dalam
penyediaan barang dan jasa untuk menuju kesejahteraan masyarakat.Penguasaan hak
atas tanah di Indonesia dimulai sejak Indonesia dipengaruhi oleh
pikiranRaffles1. Dengan hasil penyelidikan statistik mengenai keadaan agraria,
ia berkesimpulan bahwasemua tanah adalah milik raja atau pemerintah. Dengan
pegangan ini, maka dibuatlah system penarikan pajak bumi. Jadi bisa dikatakan
bahwa tonggak pertama pengaturan mengenai hak atas tanah di Indonesia dimulai
sejak saat itu.
1.2.Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan
menjelaskan secara lebih spesifik mengenai:
Pengertian Pajak Bumi
dan Bangunan.
Subjek dan objek pajak.
Pengertian NJOP.
NJKP dan cara
perhitungan NJOP.
NJKP dan pajak
terhutang sesuai dengan peraturan pajak yang berlaku di Indonesia.
1.3.Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas ruang
lingkup pembahasan maka penulis membatasi masalah yang dibahas dalam makalah
pada pengertian:
NJOP
NJKP
Cara perhitungannya.
1.4.Tujuan Penulisan
Makalah
Tujuan penulisan dari
makalah ini untuk mengetahui secara mendalam tentang :
Objek Pajak Bumi dan
Bangunan.
Subjek Pajak Bumi dan
Bangunan.
Pengertian NJKP.
Pengertian NJOP.
Cara perhitungannya.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.Pengertian dan
Ruang Lingkup PBB
Bumi adalah permukaan
bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Sedangkan Bangunan adalah kostruksi
teknik yang ditanam atau diletakkan secara tetap pada tanah atau perairan.Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB) merupakan jenis pajak yang sepenuhnya diatur oleh
pemerintah dalam menentukan besar pajaknya (menganut sistem
pemungutan official assessmen system).
2.2.Subjek Pajak
Subjek PBB adalah orang
atau badan yang secara nyata mempunyai hak atas bumi, dan atau memperoleh
manfaat atas bumi, dan atau memiliki, menguasai, dan atau memperoleh manfaat
atas bangunan.Subjek PBB yang dikenakan kewajiban membayar PBB berdasarkan
ketentuan perundang-undangan perpajakan yang berlaku menjadi Wajib Pajak. Dalam
hal objek PBB belum jelas diketahui Wajib Pajaknya, maka Direktur Jenderal
Pajak dapat menetapkan Wajib Pajak.
Apabila Wajib Pajak
dimaksud memberikan keterangan secara tertulis kepada Direktur Jenderal Pajak
bahwa ia bukan Wajib Pajak atas objek pajak dimaksud, maka :
Direktur Jenderal Pajak
membatalkan penetapan sebagai Wajib Pajak dalam jangka waktu 1 (satu) bulan
sejak diterimanya surat keterangan dimaksud apabila keterangan dimaksud
disetujui.
Direktur Jenderal Pajak
mengeluarkan surat keputusan penolakan dengan disertai alasan-alasannya apabila
keterangan yang diajukan itu tidak disetujui.
Apabila setelah jangka
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal diterimanya keterangan Direktur Jenderal
Pajak tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajukan itu dianggap
diterima.
Tanda
pembayaran/pelunasan PBB bukan merupakan bukti pemilikan hak.
2.3.Objek Pajak
Objek Pajak Bumi Dan
Bangunan/PBB adalah tanah dan atau bangunan.
Objek PBB (Pajak Bumi
dan Bangunan) antara lain :
Bumi: Permukaan bumi
(tanah dan perairan) dan tubuh bumi yang ada di pedalaman serta laut wilayah
Indonesia. Contoh: sawah, ladang, kebun, tanah, pekarangan, tambang.
Bangunan: Konstruksi
teknik yang ditanam atau dilekatkan secara tetap pada tanah dan atau perairan.
Contoh: rumah tempat tinggal, bangunan tempat usaha, gedung bertingkat, pusat
perbelanjaan, emplasemen, pagar mewah, dermaga, taman mewah, fasilitas lain
yang memberi manfaat, jalan tol, kolam renang, anjungan minyak lepas pantai.
Objek Pajak Yang Tidak
Dikenakan PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) antara lain:
Digunakan semata-mata
untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan
dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan, seperti
mesjid, gereja, rumah sakit pemerintah, sekolah, panti asuhan, candi.
Digunakan untuk
kuburan, peninggalan purbakala atau yang sejenis dengan itu.
Merupakan hutan
lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah penggembalaan yang
dikuasai oleh desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.
Digunakan oleh
perwakilan diplomatik berdasarkan asas perlakuan timbal balik.
Digunakan oleh badan
dan perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh Menteri Keuangan.
2.4.Pengertian NJOP dan
NJKP
Pengertian NJOP adalah
harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jualbeli yang terjadi secara
wajar dan bilaman tidak terdapat transaksi jual beli,nilai jual objek pajak
ditentukan melalui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis atau nilai
perolehan baru atau nilai jual objek pajak pengganti (Pasal 1 ayat 3).
. Dasar pengenaan pajak untuk PBB
disebut dengan Nilai Jual Kena Pajak (NJKP).NJKP ( Nilai Jual Kena Pajak )
adalah besaran nilai jual objek yang akan dimasukan kedalam perhitungan pajak
terhutang.Nilai Jual Kena Pajak diperoleh dengan jalan menerapkan suatu
presentase tertentu (serendahnya 20% dan setinggi-tinggi 100%) terhadap Nilai
Jual Objek Pajak (NJOP)
2.5.Cara Perhitungan
NJOP dan NJKP
Perhitungan PBB
didasarkan dari NJOP dan NJKP
Cara untuk memudahkan
penghitungan PBB terutang adalah dengan membuat klasifikasi bumi dan bangunan,
yaitu pengelompokan bumi dan bangunan menurut nilai jualnya. Klasifikasi
dimaksud sekaligus sebagai pedoman penentuan NJOP. Faktor-faktor yang
diperhatikan dalam dalam penentuan klasifikasi bumi adalah :
Letak.
Peruntukan.
Pemanfaatan.
Kondisi lingkungan dan
lain-lain.
Faktor-faktor yang
diperhatikan dalam dalam penentuan klasifikasi bangunan adalah :
Bahan yang digunakan.
Rekayasa.
Letak.
Kondisi lingkungan dan
lain-lain.
Dasar penghitungan PBB
adalah Nilai Jual Kena Pajak (assessment value = NJKP) yaitu suatu persentase
tertentu dari NJOP yang dipergunakan sebagai dasar penghitungan PBB. NJKP
ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya
100% (seratus persen) dari NJOP. Berdasarkan PP Nomor 25 Tahun 2002.
Objek PBB perkebunan,
perhutanan, dan pertambangan sebesar 40 % dari NJOP ,Objek PBB lainnya :
Sebesar 40 % dari NJOP
apabila NJOP bernilai Rp1.000.000.000,- (satu milyar rupiah ) atau lebih.
Sebesar 20% dari NJOP
apabila NJOP bernilai dibawah Rp. 1.000.000.000,- (satu miliyar rupiah ) atau
Kurang
Nilai NJKP dikalikan
0,5 % .
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Analisis kekurangan
dari Pajak Bumi dan Bangunan
Pajak bumi dan bangunan
adalah pajak Negara yang dikenakan terhadap bumi dan bangunan berdasarkan
undang – undang No. 12 th 1985 tentang pajak bumi dan bangunan sebagaimana
telah diubah dengan undang – undang No.12 th 1994 tanggal 9 November 1994. PBB
adalah yang bersifat kebendaan dalam arti besarnya pajak terutang ditentukan
oleh objek pajak. Keadaan subjek pajak yang tidak ikut menentukan besarnya
pajak dan tidak mengetahui ketentuan baku dalam perhitungan pajak.Keadaan ini
lah yang menyulitkan si wajib pajak dalam proses perhitungan.
3.2.Analisis Kelebihan
Dari Pajak Bumi dan Bangunan
Pajak bumi dan bangunan
dapat meningkatakan pendapatan kas daerah serta pembangunan daerah. Tanpa
pajak, sebagian besar kegiatan negara sulit untuk dapat dilaksanakan.
Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan
pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti
jalan-jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, kantor polisi dibiayai
dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak.Uang pajak juga digunakan untuk
pembiayaan dalam rangka memberikan rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat.
Setiap warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia,
menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai
dengan uang yang berasal dari pajak.Dengan demikian jelas bahwa peranan
penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang
jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan.
BAB VI
PENUTUP
4.1 Kesimpulan.
Berdasarkan hasil
penelitian terbukti bahwa pelaksanaan administrasi pajak bumi dan bangunan
relative lebih mudah karena si wajib pajak hanya menerima laporan surat
pemberitahuan pajak terhutang dari Dirjen Pajak tanpa perlu banyak melampirkan
laporan – laporan lainnya seperti dalam pembayaran pajak penghasilan, pajak
spendapatan dan pajak lainnya. Artinya semakin mudah proses pembayaran PBB
makan akan semakin meningkat pula pemasukan kas didaerah tersebut.
4.2 .Saran
Berdasarakan kesimpulan
yang telah di kemukan dimana pelaksanaan administrasi pajak bumi dan bangunan
telah terbukti berperan dalam meningkatkan dalam penerimaan pajak bumi dan
bangunan,Maka kami memberikan saran sebagia bahan pertimbangan dan dapat di
jadikan masukan kepada pemerintah sebagai berikut :
Di perlukan
pengembangan system online dalam pelaksanaan pajak bumi dan bangunan,Sehingga
semua jenis pajak bumi dan bangunan dapat melakukan penyetoran pajak bumi dan
bangunan secara online.
Petugas pajak bumi dan
bangunan harus sering melakukan penyuluhan agar wajib pajak bumi dan bangunan
paham dengan ketentuan peraturan PBB.
Pelaksaan administrasi
PBB sebaikanya di tingkatkan agar penerimaan PBB lebih tepat sasaran dan
meningkatkan penerimaan PBB.
Senin, 24 Februari 2014
Pendekatan Klasisk,Pendekatan Terstruktur (Structured Approach) dan Pendekatan Bottom Up dan Top Down
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Persaingan
bisnis yang semakin ketat pada era globalisasi saat ini harus didukung dengan
penerapan sistem informasi yang baik. Sistem informasi yang baik adalah suatu
sistem terpadu atau kombinasi teratur apapun dari orang-orang, hardware, software,
dan jaringaan komunikasi, untuk meyediakan informasi yang berguna dalam
mendukung kegiatan operasional dan fungsi pengambilan keputusan dari sebuah
organisasi. Sistem informasi dapat membantu segala jenis bisnis dalam
meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses bisnis yang dijalankan,
pengambilan keputusan manjerial, kerjasama kelompok kerja hingga dapat
memperkuat posisi kompetitif perusahaan dalam pasar yang dinamis. Sehingga
sistem informasi menjadi salah satu bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan
bisnis dilingkungan global yang dinamis saat ini.
Strategi
perusahaan merupakan bagian penting untuk mencapai tujuan perusahaan dan
menjadi pedoman dalam penyusunan strategi bagi unit-unit bisnis di bawahnya.
Pengembangan sistem informasi (SI) perusahaan yang didukung oleh penggunaan
teknologi informasi (TI) bisa menjadi salah satu strategi dalam meningkatkan
daya saing perusahaan. Apabila sebelumnya peranan SI hanya berfungsi sebagai
penunjang dalam hal efisiensi biaya operasional, meningkatkan ketepatan dan
produktivitas operasi dari berbagai fungsi perusahaan, maka sekarang dapat
ditingkatkan perannya sebagai salah satu alat strategis untuk meningkatkan daya
saing. Namun pengembangan strategi SI harus disesuaikan dengan strategi perusahaan
agar peran dan fungsi SI tersebut dapat meningkat dan pada akhirnya
meningkatkan nilai perusahaan itu sendiri.
Strategi
perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena sumber daya yang
dimiliki perusahaan sangat terbatas, sehingga harus dimanfaatkan secara
optimal. Strategi ini juga digunakan untuk meningkatkan daya saing atau kinerja
perusahaan karena para kompetitor memiliki sumberdaya teknologi yang sama dan
memastikan bahwa aset teknologi informasi dapat dimanfaatkan secara langsung
maupun tidak langsung dalam meningkatkan profitabilitas perusahaan, baik berupa
peningkatan pendapatan mapun pengurangan biaya. Selain itu, strategi perusahaan
berbasis sistem informasi digunakan untuk mencegah terjadinya kelebihan atau
kekurangan investasi serta menjamin bahwa teknologi informasi yang direncanakan
benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.
1.2. Rumusan Masalah
Untuk mengkaji dan
mengulas tentang pengembangan sistem informasi, maka diperlukan sub-pokok
bahasan yang saling berhubungan, sehingga penulis membuat rumusan masalah
sebagai berikut :
Pendekatan apa saja
yang digunakan untuk mengembangkan sistem informasi?
Pendekatan mana yang
lebih efektif untuk mengembangkan informasi?
Apa manfaat dari
mempelajari pendekatan pengembangan sistem informasi?
1.3.Metode Penulisan
Masalah
Penulis memakai metode
studi literatur dan kepustakaan dalam penulisan makalah ini. Referensi makalah
ini bersumber tidak hanya dari buku, tetapi juga dari media media lain seperti
web, blog, dan perangkat media massa yang diambil dari internet.
1.4.Sistematika
Penulisan Makalah
Makalah ini disusun menjadi tiga bab, yaitu bab
pendahuluan, bab pembahasan, dan bab penutup. Adapun bab pendahuluan terbagi
atas : latar belakang, rumusan makalah, tujuan dan manfaat penulisan, metode
penulisan, dan sistematika penulisan. Sedangkan bab pembahasan dibagi
berdasarkan sub-bab yang berkaitan dengan pengembangan sistem informasi.
Terakhir, bab penutup terdiri atas kesimpulan.
1.5.Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui pendekatan apa saja yang digunakan untuk
mengembangkan sistem informasi.
Untuk mengetahui pendekatan
mana yang lebih efektif untuk mengembangkan informasi.
Untuk mengetahui manfaat
dari mempelajari pendekatan pengembangan sistem informasi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pendekatan
Klasisk.
Pendekatan klasik (classical
approach) yang disebut juga pendekatan tradisional atau (classical approach) pendekatan
konvensional adalah pendekatan
mengembangkan sistem yang mengikuti tahapan di system life cycle tanpa
di bekali alat dan teknik yang memadai.
Metodologi pendekatan
klasik mengembangkan sistem dengan mengikuti tahapan-tahapan di systems life
cycle.Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan sistem akan berhasil bila
mengikuti tahapan di systems life cycle.Akan tetapi sayangnya, didalam praktek,
hal ini tidaklah cukup, karena pendekatan ini tidak memberikan pedoman lebih
lanjut tentang bagaimana melakukan tahapan-tahapan tersebut dengan terinci
karena pendekatan ini tidak dibekali dengan alat-alat dan teknik-teknik yang
memadai.Karena sifat dari sistem informasi sekarang menjadi lebih kompleks,
pendekatan klasik tidak cukup digunakan untuk mengembangkan suatu sistem
informasi yang sukses dan akan menimbulkan beberapa permasalahan.
permasalahan yang dapat
timbul di pendekatan klasik antara lain adalah sebagai berikut :
1.Pengembangan
Perangkat Lunak Akan Menjadi Sulit.
Pendekatan klasik
kurang memberikan alat-alat dan teknik-teknik di dalam mengembangkan sistem dan
sebagai akibatnya proses pengembangan perangkat lunak menjadi tidak terarah dan
sulit untuk dikerjakan oleh pemrogram.
Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table), diagram HIPO dan bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut.
Lain halnya dengan pendekatan terstruktur yang memberikan alat-alat seperti diagram arus data (data flow diagram), kamus data (data dictionary), tabel keputusan (decision table), diagram HIPO dan bagan terstruktur (structured chart) dan lain sebagainya yang memungkinkan pengembangan perangkat lunak lebih terarah berdasarkan alat-alat dan teknik-teknik tersebut.
2.Biaya perawatan atau
pemeliharaan sistem akan menjadi lebih mahal.
Biaya pengembangan
sistem yang termahal adalah terletak di tahap perawatannya. Mahalnya biaya
perawatan di pendekatan klasik ini disebabkan karena dokumentasi sistem yang
dikembangkan kurang lengkap dan kurang terstruktur.Karena pendekatan klasik
kurang didukung dengan alat-alat dan teknik-teknik, maka dokumentasi menjadi
tidak lengkap dan walaupun ada tetapi strukturnya kurang jelas, sehingga pada
waktu pemeliharaan sistem menjadi kesulitan.
3.Kemungkinan Kesalahan
Sistem Besar
Pendekatan klasik tidak
menyediakan kepada analis sistem cara untuk melakukan pengetesan sistem,
sehingga kemungkinan kesalahan-kesalahan sistem akan menjadi lebih besar.
Berbeda dengan pendekatan terstruktur yang pengembangan sistemnya dilakukan
dalam bentuk modul-modul yang terstruktur. Modul-modul ini akan lebih mudah
dites secara terpisah dan kemudian pengetesan dapat dilakukan pada integrasi
semua modul untuk meyakinkan bahwa interaksi antar modul telah berfungsi
semestinya dan sesuai dengan yang diharapkan.
4.Keberhasilan sistem kurang
terjamin.
Pendekatan klasik
kurang melibatkan pemakai sistem dalam pengembangan sistem, maka
kebutuhan-kebutuhan pemakai sistem menjadi kurang sesuai dengan yang diinginkan
dan sebagai akibatnya sistem yang diterapkan menjadi kurang berhasil.
5. Masalah dalam
penerapan sistem
Karena kurangnya
keterlibatan pemakai sistem dalam tahapan pengembangan sistem, maka pemakai
sistem hanya akan mengenal system yang baru pada tahap diterapkan saja.Sebagai
akibatnya pemakai system akan menjadi kaget dan tidak terbiasa dengan sistem
baru yang tiba-tiba dikenalkan. Sebagai akibat lebih lanjut, pemakai sistem
akan menjadi frustasi karena tidak dapat mengoperasikan sistem dengan baik.
2.2. Pendekatan
Terstruktur (Structured Approach)
Karena banyak terjadi
permasalahan di pendekatan klasik, maka kebutuhan akan pendekatan pengembangan
system yang lebih baik mulai terasa dibutuhkan.Oleh karena itu, perlu suatu
pendekatan pengembangan sistem yang baru yang dilengkapi beberapa alat dan
teknik supaya berhasil. Pendekatan yang dimulai dari awal tahun 1970 ini
disebut pendekatan terstruktur.
Pendekatan terstruktur
(structured approach) dilengkapi dengan alat-alat dan teknik-teknik yang dibutuhkan
dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang
dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan
baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur
telah banyak yang diperkenalkan baik dalam buku-buku, maupun oleh
perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem. Metodologi ini
memperkenalkan penggunaan alat-alat dan teknik-teknik untuk mengembangkan
sistem yang terstruktur.
Pendekatan
terstruktur pendekatan yang dimulai dari awal tahun ini disebut
pendekatan terstruktur (structured approach). Pendekatan terstruktur dilengkapi
dengan alat dan teknik yang dibutuhkan dalan pengembangan sistem
sehingga hasil akhir dari sistem yang di kembangkan menghasilkan sistem yang
terstruktur didefenisikan dengan baik.
Konsep pengembangan
sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru.teknik perakitan dipabrik
dan perancangan sirkuit untuk alat elektronik adalah dua contoh konsep ini yang
banyak di gunakan didalam industri.melalui pendekatan struktur,permasalahan-permasalahan
yang kompleks didalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil sistem akan
mudah di pelihara,fleksibel,lebih memuaskan pemakainya,mempunyai dokumentasi
yang baik,tepat pada waktunya,sesuai dengan agaran biaya pengembangannya dapat
meningkatkan produktifitas,dan kulitasnya akan lebih baik (bebas kesalahan).
Keuntungan dari
pendekatan terstruktur:
Mengurangi kerumitan
masalah (reduction of complexity).
Konsep mengarah pada
sistem yang ideal (focus on ideal).
Standarisasi (standardization).
Orientasi ke masa
datang (future orientation).
Mengurangi ketergantungan
pada disainer (less reliance on artistry).
2.3. Pendekatan Bottom
Up dan Top Down
Pendekatan bawah-naik
(bottom-up approach) dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level
operasional di mana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan
kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan
kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut.
Pendekatan ini juga
merupakan cirri pendekatan klasik. Bila digunakan pada tahap analisis sistem
disebut data analysis, karena yang menjadi tekanan adalah data yang akan diolah
lebih dulu. Informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.
Pendekatan atas-turun
(top-down approach) dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan
strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan
kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah
melakukan analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan
maka selanjutnya proses turun ke pemrosesan transaksi, yaitu penentuan output,
input, basis data, prosedur operasi, dan kontrol.
Pendekatan ini juga
ciri dari pendekatan terstruktur. Bila digunakan pada tahap analysis system
disebut juga dengan decision analysis karena yang menjadi tekanan adalah
informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen lebih
dulu, kemudian data yang perlu diolah didefinisikan menyusul mengikuti informasi
yang dibutuhkan.
BAB III
PENUTUP
3.1.Kesimpulan
Dari sekian banyakp ilihan pendekatan untuk mengenbangkan
informasi,maka setia pendekatan seiring dengan berjalannnya waktu terus
mengalami perubahan dan perbaikan serta peningkatan kearah yang lebih baik
lagi.Dari setiap pendekatan memunyai kelemahan sehingga terus mengalami perubahan
pendekatan ketahap perubahan yang lebih sempurna sesuai yang di inginkan perusahaan.
3.2.Saran
Untuk menunjang kinerja yang lebih baik,hendaknya suatu
perusahaan harus mampu dan bisa memilih pendekatan mana yang hendaknya
digunakan untuk mengembangkan sistem informasi perusahaan tersebut.Dengan
memilih pendekatan yang tepat,maka akan menigkatkan kinerja perusahaan kearah
yang lebih baik.
Daftar pustaka
Husain,Muhammad Fakhri
dan Amin Wibowo. 2002. Sistem Informasi Manajemen.Yogyakarta: UUP AMP
YKPN, cet. 1.
Gaol, Jimmy L. 2008.Sistem
Informasi Manajemen Pemahaman dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.
Tata Sutabri. 2004. Analisis
Sistem Informasi. Yogyakarta: Andi.
Analisa Swot
A.Pengertian SWOT
SWOT adalah akronim untuk kekuatan (Strenghts),
kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) dari
lingkungan eksternal perusahaan. Menurut Jogiyanto (2005:46).SWOT digunakan
untuk menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari sumber-sumber daya
yang di miliki perusahaan dan kesempatan-kesempatan eksternal dan
tantangan-tantangan yang di hadapi.
1. Kekuatan
(Strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan, atau
keungulan-keungulan lain yang berhubungan dengan para pesaing perusahaan dan
kebutuhan pasar yang dapat dilayani oleh perusahaan yang diharapkan dapat
dilayani. Kekuatan adalah kompetisi khusus yang memberikan keunggulan
kompetitif bagi perusahaan di pasar
2. Kelemahan
(Weakness)
Kelemahan adalah keterbatasan atau kekurangan dalam
sumber daya, keterampilan, dan kapabilitas yang secara efektif menghambat
kinerja perusahaan. Keterbatasan tersebut daoat berupa fasilitas, sumber daya
keuangan,kemampuan manajemen dan keterampilan pemasaran dapat meruoakan sumber
dari kelemahan perusahaan.
3. Peluang
(Opportunities)
Peluang adalah situasi penting yang mengguntungkan
dalam lingkungan perusahaan. Kecendrungan – kecendrungan penting merupakan
salah satu sumber peluang, seperti perubahaan teknologi dan meningkatnya
hubungan antara perusahaan dengan pembeli atau pemasokk merupakan gambaran
peluang bagi perusahaan.
4. Ancaman
(Threats)
Ancaman adalah situasi penting yang tidak
menguntungan dalam lingkungan perusahaan. Ancaman merupakan pengganggu utama
bagi posisi sekarang atau yang diinginkan perusahaan. Adanya
peraturan-peraturan pemerintah yang baru atau yang direvisi dapat merupakan
ancaman bagi kesuksesan perusahaan.
B.Fungsi SWOT
Menurut Ferrel dan Harline (2005), fungsi dari
Analisis SWOT adalah untuk mendapatkan informasi dari analisis situasi dan
memisahkannya dalam pokok persoalan internal (kekuatan dan kelemahan) dan pokok
persoalan eksternal (peluang dan ancaman).Analisis SWOT tersebut akan
menjelaskan apakah informasi tersebut berindikasi sesuatu yang akan membantu
perusahaan mencapai tujuannya atau memberikan indikasi bahwa terdapat rintangan
yang harus dihadapi atau diminimalkan untuk memenuhi pemasukan yang
diinginkan.Analisis SWOT dapat digunakan dengan berbagai cara untuk
meningkatkan analisis dalam usaha penetapan strategi. Umumnya yang sering
digunakan adalah sebagai kerangka / panduan sistematis dalam diskusi untuk
membahas kondisi altenatif dasar yang mungkin menjadi pertimbangan perusahaan.
C.Analisis SWOT
Analisa SWOT (SWOT Analysis) adalah suatu metode
perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang
menjadi kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang
(Opportunities), dan Ancaman (Threats) yang mungkin terjadi dalam mencapai
suatu tujuan dari kegiatan proyek/kegiatan usaha atau institusi/lembaga
dalam skala yang lebih luas. Untuk keperluan tersebut diperlukan kajian dari
aspek lingkungan baik yang berasal dari lingkungan internal maupun
eskternal yang mempengaruhi pola strategi institusi/lembaga dalam
mencapai tujuan.
Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini,
metode SWOT banyakdipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan
strategi perusahaan(strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini
banyak berkaitan denganaspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa
analisa ditemukan pulapenggunaan SWOT untuk kepentingan public policy. Metode
SWOT pertama kalidigunakan oleh Albert Humphrey yang melakukan penelitian di
Stamford Universitypada tahun 1960-1970 dengan analisa perusahaan yang
bersumber dalam Fortune500. Meskipun demikian, jika ditarik lebih ke belakang
analisa ini telah ada sejak tahun 1920-an sebagai bagian dari Harvard
Policy Model yang dikembangkan di Harvard Business School. Namun pada saat
pertama kali digunakan terdapat beberapa kelemahan utama di antaranya
analisa yang dibuat masih bersifat deskripstif dan belum/tidak menghubungkan
dengan strategi-strategi yang mungkin bisa dikembangkan dari analisa
kekuatan-kelemahan yang telah dilakukan.
Analisis SWOT merupakan bagian dari proses
perencanaan. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses
perencanaan tersebut, suatu institusimembutuhkan penilaian mengenai kondisi
saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan
institusi. Dengan analisa SWOT akandidapatkan karakteristik dari kekuatan
utama, kekuatan tambahan, faktor netral, kelemahan utama dan kelemahan
tambahan berdasarkan analisa lingkungan internaldan eksternal yang
dilakukan. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untukbisa maju
dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkanpengaruh dari
luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangterdapat
empat langkah utama yang harus dilakukan, yaitu :
1. Mengidentifikasi existing
strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. Strategi ini bisa jadi
bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi
menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan
merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi.
2. Mengidentifikasi
perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin
terjadi di masa mendatang.
3. Membuat cross tabulation
antara strategi yang ada saat ini dengan perubahanlingkungan yang ada.
4. Menentukan katagorisasi
kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakahstrategi yang saat ini ada
masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang.Jika masih sesuai
strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang, dansudah tidak sesuai merupakan
kelemahan.
Analisis SWOT ( Strength, Weakness, Opportunity,
Threat ) merupakan analisis dari kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan dari
suatu perusahaan atau organisasi serta peluang dan ancaman di lingkungan
eksternalnya. Perusahaan atau organisasi harus membuat analisis SWOT dengan
menekankan kepada kekuatannya untuk menutupi atau mengalahkan kelemahannya.
Juga menggunakan peluang-peluang yang terlihat dari analisis tersebut, untuk
menutupi segala ancaman yang ada di lingkungan eksternalnya.
Dengan analisis SWOT ini, maka perusahaan dapat
melihat posisi dia terhadap perusahaan yang lain ( pesaing ) di industri yang
sama. Dengan analisis ini, dapat di rumuskan grand strategy yang terdiri dari :
Strategi-strategi stabilitas perusahaan, yaitu
strategi tingkat korporasi yang dibuat karena tidak adanya perubahan yang
berarti.
Strategi-strategi pertumbuhan perusahaan, yaitu
strategi tingkat korporasi yang berupaya meningkatkan tingkat operasi
organisasi.
Strategi-strategi pengurangan, yaitu strategi
tingkat korporasi yang berupaya untuk mengurangi keragaman operasional
organisasi.
Kombinasi, yaitu mengejar dua atau lebih strategi
diatas.
Pada awalnya analisis SWOT ini di khususkan kepada
perusahaan-perusahaan yang sudah go public, tetapi pada saat sekarang, banyak
perusahan-perusahaan yang belum go public sudah menggunakan analisis SWOT ini
bersama-sama dengan penggunaan analisis Balance Scorecard.
Didalam analisis SWOT kita ingin memproleh
hasil berupa kesimpulan-kesimpulan berdasarkan ke-4 faktor dimuka yang
sebelumnya telah dianalisa :
1. Strategi
Kekuatan-Kesempatan (S dan O atau Maxi-maxi)Strategi yang dihasilkan pada
kombinasi ini adalah memanfaatkan kekuatan atas peluang yang telah
diidentifikasi. Misalnya bila kekuatan perusahaan adalah pada keunggulan
teknologinya, maka keunggulan ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi segmen pasar
yang membutuhkan tingkat teknologi dan kualitas yang lebih maju, yang
keberadaanya dan kebutuhannya telah diidentifikasi pada analisis kesempatan.
2. Strategi
Kelemahan-Kesempatan (W dan O atau Mini-maxi).Kesempatan yang dapat
diidentifikasi tidak mungkin dimanfaatkan karena kelemahan perusahaan. Misalnya
jaringan distribusi ke pasar tersebut tidak dipunyai oleh perusahaan. Salah
satu strategi yang dapat ditempuh adalah bekerjasama dengan perusahaan yang
mempunyai kemampuan menggarap pasar tersebut. Pilihan strategi lain adalah
mengatasi kelemahan agar dapat memanfaatkan kesempatan.
3. Strategi
Kekuatan-Ancaman (S atau T atau Maxi-min).Dalam analisa ancaman ditemukan
kebutuhan untuk mengatasinya. Strategi ini mencoba mencari kekuatan yang
dimiliki perusahaan yang dapat mengurangi atau menangkal ancaman tersebut.
Misalnya ancaman perang harga.
4. Strategi
Kelemahan-Ancaman (W dan T atau Mini-mini).Dalam situasi menghadapi ancaman dan
sekaligus kelemahan intern, strategi yang umumnya dilakukan adalah “keluar”
dari situasi yang terjepit tersebut. Keputusan yang diambil adalah “mencairkan”
sumber daya yang terikat pada situasi yang mengancam tersebut, dan
mengalihkannya pada usaha lain yang lebih cerah. Siasat lainnya adalah
mengadakan kerjasama dengan satu perusahaan yang lebih kuat, dengan harapan
ancaman di suatu saat akan hilang. Dengan mengetahui situasi yang akan
dihadapi, anak perusahaan dapat mengambil langkah-langkah yang perlu dan bertindak
dengan mengambil kebijakan-kebijakan yang terarah dan mantap, dengan kata lain
perusahaan dapat menerapkan strategi yang tepat.
D.Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT
Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor
SWOT, secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan
tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Faktor
lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi
karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi
(exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih
bisa dikendalikan.
Faktor-faktor yang menjadi
kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman.
1. Kekuatan dan Kelemahan.
Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa
digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Suatu kekuatan /
strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive
advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan
lingkungan sekitarnya, misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa
mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Jika pada instutusi lain
juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core
competence yang sama, maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan
relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus
dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu
penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Hal-hal yang menjadi
opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Sehingga sama dengan kekuatan,
tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki
terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.
2. Peluang dan Ancaman.
Peluang adalah faktor yang di dapatkan denganmembandingkan analisa internal
yang dilakukan di suatu institusi (strenghth danweakness) dengan analisa
internal dari kompetitor lain. Sebagaimana kekuatanpeluang juga harus
diranking berdasarkan success probbility, sehingga tidak semua peluang
harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Peluang dapatdikatagorikan
dalam tiga tingkatan :
· Low,
jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluangpencapaiannya juga
kecil.
· Moderate
: jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namunpeluang pencapaian kecil
atau sebaliknya.
· Best,
jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluangtercapaianya
besar.
3. Ancaman adalah
segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan
tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan
pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance).
Sehingga dapat dikatagorikan :
· Ancaman
utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan
dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini,diperlukan beberapa contingency
planning yang harus dilakukan institusiuntuk mengantisipasi.
· Ancaman
tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknyakecil dan kemungkinan
terjadinya kecil
· Ancaman
moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tingginamun kemungkinan
terjadinya rendah dan sebaliknya.
4. Sehingga dari kacamata
analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa :
· Suatu
institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki majoropportunity yang
besar dan major threats yang kecil
· Suatu
institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity danthreats pada
saat yang sama
· Suatu
institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat
· Suatu
institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan highthreats.
E.Metode Survey
Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber
melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample
pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal
dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga.
Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan Focus Group
Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan
yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengankomprehensif artinya
melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah
mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber
dari informasi kualitatif pemilihan responden yang
credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga
hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi.
2. Pembuatan kuesioner SWOT
berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum
kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berkut:
a. Penilaian faktor internal dan
eksternal. Di sini responden membrikanpreferensi opini terhadap faktor-faktor
internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa
mendatang.
b. Penilaian urgensi. Di sini
responden diminta untuk menilai tingkat urgensifaktor tersebut untuk ditangani.
Penilaian ini berhubungan dengan skalaprioritas dalam menyelesaikan persoalan-persoalan
pembangunan yangtercermin melalui faktor-faktor yang dinilai.
Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai
kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman
(dari analisa eksternal).
1. Setelah kuesioner terisi dan
terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan denganmeranking bobot penilaian
pada ”penilaian responden” yang memiliki nilaimaksimal 6 dan minimal 1.
Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median(atau rata-rata dilihat dari
persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan”kekuatan” pada analisa
internal dan ”peluang” pada analisa eskternal.Sebaliknya faktor-faktor yang
memiliki nilai penilaian di bawah median disebutdengan ”kelemahan” pada analisa
internal dan ”ancaman” pada analisaeksternal.
2. Membentuk suatu kuadran faktor
pembangunan, yaitu suatu blok yangmenjelaskan posisi dari kombinasi faktor
internal dan eksternal pembangunan,dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O),
kekuatan-ancaman (S-T),kelemahan-peluang (W-O) dan kelemahan-ancaman (W-T).
Sebelummenentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji
konsistensidari pengolahan kuesioner SWOT.
3. Membuat pola strategi
pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas strategi pembangunan
berdasarkan skenario ini ditetapkan denganmenjalankan kombinasi kebijakan
dengan indeks nilai paling kecil berurutan keyang paling besar. Dengan kata
lain, daerah akan berusaha untuk mengatasiseluruh faktor yang paling lemah yang
dimiliki untuk kemudian beralih padakombinasi strategi yang telah memiliki
indeks baik/tinggi. Dari contoh di atasstrategi pembangunan yang dilakukan
institusi akan bergerak dari WT_ ST_WO_ SO.
F.Matriks SWOT
Menurut Rangkuti (2006), Matriks SWOT
dapatmenggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternalyang
dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dankelemahan yang
dimilikinya. Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altenatif
strategis.
Berikut ini adalah keterangan dari matriks SWOT
diatas :
1. Strategi SO
(Strength and Oppurtunity). Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran
perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan
memanfaatkan peluang sebesar – besarnya.
2. Strategi ST
(Strength and Threats). Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan
untuk mengatasi ancaman.
3. Strategi WO
(Weakness and Oppurtunity). Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan
peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
4. Strategi WT
(Weakness and Threats). Strategi ini berdasarkan kegiatan yang bersifat
defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari
ancaman.
G.Tujuan Analisis SWOT
1. Memanfaatkan
keuntungan dari kekuatan yang dimiliki dan kesempatan yang ada.
2. Meminimalisasi
Kelemahan dan mengeliminasi ancaman.
Analisis SWOT sangat berguna untuk mengenali
situasi, lingkungan, dan kondisi saat ini untuk keperluan pengambilan
keputusan-keputusan menentukan langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan oleh
perusahaan terhadap kelangsungan hidup aktivitas bisnisnya. Analsis SWOT
memberikan alur pikir (framework) yang baik untuk keperluan peninjauan
strategi, posisi, dan arah perusahaan pengambilan posisi bisnis dalam industri,
mengevaluasi kompetitor, pengambilan kebijakan dalam perencanaan strategi
marketing atau bisnis, membuat laporan penelitian,brainstorming saat meeting,
atau kebutuhan lainnya.
H.Kesimpulan
Analisis Swot adalah sebuah bentuk analisis situasi
dan kondisi yang bersifat deskriptif (memberi gambaran). Analisis ini
menempatkan situasi dan kondisi sebagai faktor masukan, yang kemudian
dikelompokkan menurut kontribusinya masing-masing.Analisis Swot sangat penting
perannya dalam meningkatkan mutu pendidikan karena analisis dan gambaran yang
diberikan merupakan tolok ukur dalam mengembangkan lembaga/satuan pendidikan
lebih lanjut.Setelah analisis, perlu dirumuskan visi,misi, tujuan, dan program
kerja yang lebih konkrit.


06.03
jhun number one